11 April 20170 Komentar | Dilihat : 407 kali
Ditulis oleh admin

Tuban – Sebanyak dua desa dari sembilan desa di wilayah Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tahun ini bakal dipilih Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Tuban untuk diproyeksikan sebagai sentral buah durian. Dua desa tersebut adalah Desa Jlodro, dan Desa Jamprong.

"Terpilihnya dua desa ini karena sudah tumbuh 300 pohon dengan subur. Sehingga dapat menjadi pusat perkembangan raja buah," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kecamatan Kenduruan, Sugiharto, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu, 25 Februari 2017.

Sejarah singkat adanya pohon durian di wilayah setempat, bermula dari bantuan 1.000 bibit dari Pemerintah Daerah (Pemda) Tuban tahun 1980-an. Dari jumlah tersebut kini tersisa 300 pohon, dan baru tiga pohon di Desa Jlodro yang berbuah.

Untuk mengembangkan potensi buah durian, tahun ini Pemda berencana menyuplai 2.000 bibit kedua desa tersebut. Kebetulan di Desa Jamprong kini menjadi pusat pemboran Migas Sumur Albatros Putih (ABP-1) yang di operatori Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.

"Masing-masing desa bakal memperoleh 1.000 bibit durian varietas montong asal Bangkok, Thailand dalam bentuk stek," imbuhnya panjang lebar.

Jauh sebelum petani memperoleh bibit, lembaganya bakal membina dan melatih warga sebelum menanam. Upaya ini untuk meningkatkan harapan hidup durian di wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Mendengar rencana ini seorang petani asal Desa Jlodro, Sumijan, sangat mengapresiasi perhatian Pemda. Pria yang memiliki kebun durian ini mengaku, setiap kali panen dalam setahun mampu mengahasilkan uang kisaran Rp 12 juta.

"Dari dua pohon durian dapat menghasilkan 500 buah," sambungnya.

Setiap kali panen, awalnya Sumijan langsung menjualnya ke pasar Jatirogo. Setelah itu melakukan promo, dan kini beberapa pelanggannya langsung membeli durian di kediamannya.

"Adanya penataan pasar buah yang paling kami butuhkan," sergah Tarno petani durian lain.

Pria anak satu ini, sudah lama serius menggeluti menanam durian. Meski duriannya belum berbuah, namun salah satu yang dikhawatirkan petani hanya soal pemasaran.

Mengetahui, keluh kesah warganya Kepala Desa Jlodro, Rajut, berharap Pemda mampu mendukung potensi durian di wilayahnya berupa pemberian bibit, penyuluhan, maupun pemasaran. Upaya tersebut untuk menjadikan Desa Jlodro menjadi agropolitan.

"Bantuan bibit ataupun pembinaan tanpa ada penataan pasar juga masih menyisakan dilema petani," sambungnya.

Mengantisipasi problem tersebut, pihaknya dalam waktu dekat bakal membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mengelola potensi durian di wilayahnya. Sekaligus mengurangi permainan tengkulak yang berujung merugikan petani. (Aim)